Sukanto Tanoto Mempelopori Pengelolaan Hutan Berkelanjutan

Sukanto Tanoto 2
Image Source: Aprildialog.com https://www.aprildialog.com/en/2015/11/30/landscape-level-restoration-of-peat-forest-in-kampar-peninsula/

 

Pengusaha Sukanto Tanoto menampik sikap pesimistis terhadap industri kehutanan. Sektor ini dianggap tidak berkelanjutan. Namun, bersama Royal Golden Eagle (RGE) yang didirikannya, ia membuktikan bahwa pandangan tersebut salah.

Sukanto Tanoto saat ini memimpin RGE sebagai Chairman. Perusahaannya ini merupakan korporasi kelas internasional dengan aset hingga 18 miliar dolar Amerika Serikat dan karyawan sekitar 60 ribu orang. Bidang operasinya di sektor sumber daya mulai dari kelapa sawit, selulosa spesial, pulp dan kertas, serat viscose, hingga minyak dan gas.

Dari bidang usaha yang digeluti terlihat bahwa Sukanto Tanoto bergerak di industri kehutanan. Selama ini, sektor ini sering mendapat label negatif. Operasional perusahaan dianggap tidak ramah lingkungan dan cenderung merusak alam.

Padahal, tidak selalu seperti itu. Industri kehutanan bisa menjadi bisnis yang mendukung kelestarian alam. Caranya ialah menerapkan prinsip-prinsip berkelanjutan dalam operasionalnya.

Hal ini dipraktikkan oleh Sukanto Tanoto bersama RGE. Anak-anak perusahaannya diwajibkan untuk melakukan berbagai upaya untuk ikut aktif menjaga keseimbangan iklim. Arahan ini dipraktikkan dengan baik. Salah satunya oleh Grup APRIL.

APRIL merupakan anak perusahaan RGE yang bergerak di industri pulp dan kertas. Mereka tercatat sebagai salah satu perusahaan terbesar di dunia di sektor tersebut. Hal itu tak lepas dari kapasitas produksi terpasang mereka yang tinggi. Setiap tahun, APRIL sanggup menghasilkan pulp hingga 2,8 juta ton. Itu masih ditambah dengan produksi kertas sebesar 1,15 juta ton dalam jangka waktu yang sama.

Namun, tantangan berat dihadapi APRIL dalam menjaga operasional berada dalam koridor keberlanjutan. Salah satunya terkait pemenuhan bahan baku.

Untuk memproduksi pulp dan kertas diperlukan kayu yang menjadi bahan baku. Ini yang menjadi pangkal tantangan. Karena sudah berkomitmen ikut menjaga alam seperti digariskan oleh Sukanto Tanoto, APRIL tidak mungkin mendapatkannya dari hutan alam. Situasi ini membuat mereka memutuskan untuk membuat perkebunan yang menjadi sumber bahan baku.

Langkah ini akhirnya menjadi kesempatan bagi Sukanto Tanoto untuk membuktikan bahwa industri kehutanan bisa dijalankan dengan prinsip berkelanjutan. Bersama APRIL, ia memperlihatkan bahwa pengelolaan hutan yang mendukung perlindungan alam dapat dilakukan.

Keseriusan APRIL dibuktikan dengan penerapan Sustainable Forest Management Policy (SFMP) 2.0 sejak 2015. Mereka menjadi pelopor pelaksanaannya di Indonesia. Dengan itu, APRIL mampu menjamin bahwa mereka menjalankan pengelolaan secara berkelanjutan.

Lantas apa saja yang dilakukan APRIL untuk memastikan pengelolaan hutan berdasarkan prinsip-prinsip berkelanjutan? Berikut ini sejumlah langkah yang diambil APRIL untuk melakukannya.

MENJALANKAN KONSERVASI

Dalam pelaksanaan pengelolaan hutan berkelanjutan, APRIL memulainya dengan upaya konservasi. Mereka melakukan perlindungan terhadap hutan yang bernilai konservasi tinggi. Luas area yang dilindungi hampir separuh dari luas lahan konsesi yang dimiliki.
Saat ini, perusahaan Sukanto Tanoto tersebut mempunyai lahan konsesi seluas 1 juta hektare. Namun, cuma 480 ribu hektare yang dipakai untuk keperluan  produksi. Sisa lahannya dipergunakan untuk kawasan konservasi wajib yang dimanfaatkan oleh masyarakat, infrastruktur, serta area yang secara sukarela disisihkan untuk dukungan program restorasi ekosistem di Riau.
Luas lahan konservasi APRIL jauh lebih tinggi dibanding aturan pemerintah. Selama ini, perusahaan hanya diwajibkan menyisakan 30 persen dari lahan konsesi untuk area hutan lindung dan keperluan publik. Namun, APRIL justru memberi 50 persen lahannya untuk hal tersebut.

Dalam pelaksanaan, APRIL memilih menggunakan pendekatan ring plantations. Di model pengelolaan hutan ini, area yang dikonservasi berada di tengah. Hanya kawasan luarnya yang digunakan untuk kepentingan produksi.
APRIL kemudian menanam pohon akasia di sana sebagai sumber bahan baku. Tanaman ditanam secara melingkar agar berfungsi sebagai zona buffer atau penahan.

Melalui konsep ini, masyarakat dapat mengambil manfaat hutan di area penyangga. Dengan demikian, kawasan hutan bagian dalam yang dilindungi akan tetap terjaga dari kegiatan yang merusak seperti pembalakan liar atau perambahan manusia.

 PERLINDUNGAN BAHAYA KEBAKARAN

April

Image Source: APRIL

             Pengelolaan hutan berkelanjutan oleh APRIL diikuti dengan perlindungan kebakaran. Pasalnya, hampir semua kawasan hutan di negeri kita rawan dilalap si jago merah.

Sebagai salah satu bentuk komitmen APRIL dalam melakukan pencegahan terjadinya kebakaran hutan dan lahan , APRIL membentuk tim siaga kebakaran bernama Fire Emergency Response Team (FERT) dengan jumlah personel mencapai 1.080 orang untuk memastikan tidak ada kebakaran hutan dan lahan di sekitar area konsesi.

APRIL terus mengembangkan  kemampuan para Fire Fighter, sebutan bagi pemadam kebakaran, dengan mengadakan pelatihan-pelatihan rutin, serta dilengkapi dengan peralatan dengan teknologi terkini seperti 492 pompa, dukungan satelit cuaca, kapal boat amfibi, drone,  serta helikopter.

APRIL melakukan investasi hingga USD 6juta untuk perlengkapan dan peralatan pemadam kebakaran, ditambah dengan alokasi USD 2 Juta per tahun.

Dana itu dikeluarkan karena perlindungan bahaya kebakaran tidak mengenal hari libur. Pengawasan lahan dan hutan dilakukan setiap hari. Bahkan, patroli makin sering dilakukan ketika musim kering yang berpotensi memicu kebakaran datang.

MENDORONG PEREKONOMIAN SOSIAL

Pengelolaan hutan berkelanjutan akan sia-sia kalau tidak ada partisipasi dari masyarakat sekitar. APRIL mengetahuinya karena sadar bahwa tangan manusia yang sering membuat kelestarian hutan rusak.

Dengan dasar tuntutan hidup dan pemenuhan kebutuhan ekonomi, hutan sering dirambah.  Contoh termudah ialah penebangan kayu secara liar untuk dijual sebagai sumber penghidupan.
Fakta ini membuat APRIL memasukkan upaya pengembangan ekonomi sosial sebagai bagian pengelolaan hutan berkelanjutan. Perusahaan Sukanto Tanoto ini berusaha membantu perekonomian warga di sekitar hutan. Caranya ialah dengan menggulirkan program Community Development.

Di dalam program tersebut terdapat beragam kegiatan mulai dari kemitraan, dukungan dan bimbingan sistem pertanian, hingga pengajaran peternakan yang baik. Diharapkan, berkat sejumlah dukungan tersebut, warga mampu memiliki sumber penghidupan yang baik.

Kalau itu terjadi, dengan sendirinya, kelestarian hutan terjaga. Pasalnya,  masyarakat tidak lagi akan mengeksploitasi hutan.
MENDUKUNG RESTORASI

April Dialog

Image Source: Aprildialog.com

https://www.aprildialog.com/en/2015/02/25/the-bigger-picture-conservation-and-eco-restoration-sits-alongside-production-forestry-in-indonesia/

             Langkah pengelolaan hutan berkelanjutan oleh APRIL dilengkapi dengan pemberian dukungan terhadap upaya pemulihan lahan gambut yang sudah terdegradasi. Perusahaan Sukanto Tanoto ini mendukung program yang dinamai sebagai Restorasi Ekosistem Riau (RER).
RER dijalankan untuk memulihkan dan melindungi lahan gambut yang sudah terdegradasi di kawasan Semenanjung Kampar dan Pulau Padang di Riau. Dukungan yang diberikan oleh APRIL sangat besar. Mereka rela mengeluarkan dana sebesar 100 juta dolar AS selama sepuluh tahun ke depan.
Sejauh ini, RER telah berhasil melindungi dan memulihkan lahan seluas 150 ribu hektare. Dengan ini, keanekaragaman hayati di sana mulai hadir kembali.

Itulah yang dilakukan oleh Sukanto Tanoto melalui APRIL dalam menjalankan pengelolaan hutan berkelanjutan. Ia memberi contoh nyata dengan praktik secara langsung. Pada akhirnya langkah ini menjadi referensi bagi pihak lain di Indonesia untuk melakukan praktik ramah lingkungan di operasional perusahaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *